oleh

Menjahit Asa di Kaliorang: Nur Aini dan Benang Kebersamaan Perempuan Desa

-Ekobis-15 Dilihat

PAGI belum sepenuhnya matang ketika sebuah rumah sederhana di Desa Bangun Jaya, Kecamatan Kaliorang, mulai dipenuhi bunyi khas mesin jahit. Dengungnya ritmis, berpadu dengan suara gunting memotong kain dan tawa kecil para perempuan yang duduk berderet di kursi plastik. Pintu dan jendela dibiarkan terbuka, membiarkan angin membawa aroma kain baru bercampur minyak mesin aroma kerja, aroma harapan.

Di ruangan itu, tangan-tangan terampil bergerak cekatan. Benang ditarik, lipatan dirapikan, pedal diinjak mantap. Gulungan kain warna-warni tersusun di sudut ruangan, menunggu giliran untuk diubah menjadi pakaian yang kelak punya cerita sendiri.

Di antara mereka, seorang perempuan berhijab tampak hilir mudik. Ia berhenti di satu mesin, mengamati hasil jahitan, memberi masukan lembut. Di kesempatan lain, ia melempar candaan yang mengundang senyum, mencairkan suasana. Dialah Nur Aini sosok yang menjadi pengikat semangat para perempuan Kaliorang.

Di usia paruh baya, energi Nur Aini tak surut. Sebagai Ketua Kelompok Kaliorang Jaya, ia membimbing perempuan dari berbagai desa yang tengah menekuni pelatihan menjahit. Pengalamannya membuka usaha jahit, ditambah latar belakangnya sebagai lulusan sarjana pendidikan, membuatnya piawai bukan hanya menjahit kain, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri.

“Awalnya menjahit hanya hobi,” tutur perempuan kelahiran Jepu-jepu itu. “Lama-lama, ini jadi cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”

Hampir dua dekade lalu, Nur Aini belajar menjahit di Bontang. Kini, pengetahuan itu ia bagikan kembali. Bersama rekan-rekannya, ia mengikuti pelatihan menjahit yang diselenggarakan PT Indexim Coalindo bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Mandiri Sangatta. Pelatihan ini tak sekadar mengasah keterampilan teknis, tetapi juga membangun fondasi usaha bersama.

Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Indexim Coalindo. Selain pelatihan, peserta juga menerima bantuan mesin jahit dan perlengkapan pendukung lainnya modal penting untuk melangkah lebih jauh.

“Kami tidak hanya diajari supaya bisa menjahit dengan baik,” ujar ibu dua anak itu. “Kami juga didampingi untuk mengembangkan usaha jahit berbasis kelompok. Cara mengelola kelompok, membangun kerja sama, semuanya diperhatikan dan didampingi secara intensif.”

Bagi Nur Aini, menjahit bukan pekerjaan individual. Ia percaya, kekuatan justru lahir dari kebersamaan. Dengan bekerja dalam kelompok, berbagai potensi bisa disatukan, skala usaha diperbesar, dan permintaan yang lebih banyak dapat dilayani.

Menjelang siang, tumpukan hasil jahitan kian meninggi. Rapi, siap dipasarkan, dan sarat makna. Di ruang sederhana itu, bukan hanya pakaian yang dirajut oleh benang dan jarum, tetapi juga asa, ketekunan, dan semangat perempuan-perempuan Kaliorang untuk memperbaiki perekonomian keluarga.

Satu jahitan demi satu jahitan, Nur Aini dan rekan-rekannya sedang menjahit masa depan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *